CV. Sinar Fajar Indonesia
Konsutan Eksplorasi, Topografi & Engeneering
Tentang Kami
- CV. SINAR FAJAR INDONESIA
- Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia
- CV. SINAR FAJAR INDONESIA didirikan pada January 2011 dengan akta notaris NO.W18-U4/26/HK.02.3/I 2011 merupakan badan usaha disegala biding, baik dibidang Pekerjaan Umum, Pertanian, Supplier, dll. CV. Sinar Fajar Indonesia berkantor di kecamatan Samboja Kutai Kartanegara Kalimantan timur. Sejak tahun 2009 CV. Sinar Fajar Indonesia yang awalnya bergabung dengan CV. Berkah Utama telah memulai berkarya dibidang jasa pertambangan dan eksplorasi. Didukung dengan tenga ahli yang berpengalaman baik alumnus universitas di wilayah Kalimantan maupun diluar Kalimantan.
Minggu, 13 Mei 2012
Selasa, 10 April 2012
Cadangan Gas Bumi Indonesia 157,14 Tscf
Heriyono
heriyono@majalahtambang.com
Jakarta-TAMBANG. Total cadangan gas Indonesia berdasarkan data 2010 ditaksir mencapai 157,14 triliun standar kaki kubik (tscf), terdiri atas cadangan terbukti 108,4 tscf dan cadangan potensial 48,74 tscf. Jumlah itu setara 3% dari cadangan gas dunia.
Seperti dikutip dari data Kementerian ESDM, hari ini, disebutkan bahwa total cadangan gas bumi tersebut tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Diantaranya, Aceh sebanyak 5,74 tscf, Sumatera Utara 1,28 tscf, Sumatera Tengah 8,56 tscf, Sumatera Selatan 17,90 tscf, dan Natuna 51.46 tscf.
Kemudian, Jawa Barat 3,70 tscf, Jawa Timur 6,40 tscf, Kalimantan 18,33 tscf, Sulawesi 4,23 tscf, Maluku 15,22 tscf, dan Papua 24,32 tscf. Sementara, sumber daya gas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 594,43 tscf, sedikit lebih besar dibanding sumber daya gas metana batubara (CBM) yang diperkirakan sekitar 453,3 tscf.
Pada 2010, produksi gas bumi Indonesia mencapai 9.336 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd), naik 950 mmscfd dari 8.386 mmscfd pada 2009. Kenaikan produksi tersebut antara lain karena mulai berproduksinya beberapa lapangan baru dan optimalisasi produksi.
heriyono@majalahtambang.com
Jakarta-TAMBANG. Total cadangan gas Indonesia berdasarkan data 2010 ditaksir mencapai 157,14 triliun standar kaki kubik (tscf), terdiri atas cadangan terbukti 108,4 tscf dan cadangan potensial 48,74 tscf. Jumlah itu setara 3% dari cadangan gas dunia.
Seperti dikutip dari data Kementerian ESDM, hari ini, disebutkan bahwa total cadangan gas bumi tersebut tersebar di sejumlah wilayah Indonesia. Diantaranya, Aceh sebanyak 5,74 tscf, Sumatera Utara 1,28 tscf, Sumatera Tengah 8,56 tscf, Sumatera Selatan 17,90 tscf, dan Natuna 51.46 tscf.
Kemudian, Jawa Barat 3,70 tscf, Jawa Timur 6,40 tscf, Kalimantan 18,33 tscf, Sulawesi 4,23 tscf, Maluku 15,22 tscf, dan Papua 24,32 tscf. Sementara, sumber daya gas bumi Indonesia diperkirakan mencapai 594,43 tscf, sedikit lebih besar dibanding sumber daya gas metana batubara (CBM) yang diperkirakan sekitar 453,3 tscf.
Pada 2010, produksi gas bumi Indonesia mencapai 9.336 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd), naik 950 mmscfd dari 8.386 mmscfd pada 2009. Kenaikan produksi tersebut antara lain karena mulai berproduksinya beberapa lapangan baru dan optimalisasi produksi.
Kurang Optimalkan Batubara, Subsidi Listrik Membengkak

Widjajono Partowidagdo
Subkhan AS
subkhan@majalahtambang.com
Jakarta-TAMBANG. Wakil Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Widjajono Partowidagdo, mengungkapkan tingginya besaran subsdi listrik disebabkan karena kurang optimalnya program pengalihan penggunaan batubara sebagai bahan baku pembangkit listrik.
Padahal, lanjut Widjajono, Perusahaan Listrik Negara (PLN) seharusnya bisa mengoptimalkan peran batubara sebagai pengganti minyak. Dimana, penggunaan batubara sebagai bahan baku akan jauh lebih hemat ketimbang minyak.
“Coba lihat di Sumatera Selatan dan Sumatera Utara, kalau pakai batubara hanya dibutuhkan dana Rp 800/kwh, sedangkan dana yang dibutuhkan minyak mencapai Rp 3500/kwh,” ucap Widjajono di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa 10 April 2012.
Lebih lanjut, Widjajono mengatakan, sebenarnya kalau saja program batubara yang 10 megawatt dari Cina itu berjalan, maka besaran subsidi listrik tidak akan membengkak seperti sekarang ini. Sebagaimana yang tertera dalam APBN P 2012, pemerintah telah memberikan anggaran sebesar Rp 60 trilun untuk listrik.
Karena itu, Widjajono mengancam akan menegur keras Direktur Utama PLN, jika saja PLN enggan mengoptimalkan penggunaan batubara sebagai bahan baku penghasil listrik.
“Kalau perusahaan negara tidak mau pakai barang murah tapi pakai mahal, maka diganti aja Dirutnya, itu kan merugikan masyarakat,” pungkasnya.
subkhan@majalahtambang.com
Jakarta-TAMBANG. Wakil Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Widjajono Partowidagdo, mengungkapkan tingginya besaran subsdi listrik disebabkan karena kurang optimalnya program pengalihan penggunaan batubara sebagai bahan baku pembangkit listrik.
Padahal, lanjut Widjajono, Perusahaan Listrik Negara (PLN) seharusnya bisa mengoptimalkan peran batubara sebagai pengganti minyak. Dimana, penggunaan batubara sebagai bahan baku akan jauh lebih hemat ketimbang minyak.
“Coba lihat di Sumatera Selatan dan Sumatera Utara, kalau pakai batubara hanya dibutuhkan dana Rp 800/kwh, sedangkan dana yang dibutuhkan minyak mencapai Rp 3500/kwh,” ucap Widjajono di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa 10 April 2012.
Lebih lanjut, Widjajono mengatakan, sebenarnya kalau saja program batubara yang 10 megawatt dari Cina itu berjalan, maka besaran subsidi listrik tidak akan membengkak seperti sekarang ini. Sebagaimana yang tertera dalam APBN P 2012, pemerintah telah memberikan anggaran sebesar Rp 60 trilun untuk listrik.
Karena itu, Widjajono mengancam akan menegur keras Direktur Utama PLN, jika saja PLN enggan mengoptimalkan penggunaan batubara sebagai bahan baku penghasil listrik.
“Kalau perusahaan negara tidak mau pakai barang murah tapi pakai mahal, maka diganti aja Dirutnya, itu kan merugikan masyarakat,” pungkasnya.
http://majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=5589
Langganan:
Entri (Atom)